MAKALAH
MODEL PENASIHAT AKADEMIK BERBASIS
KARAKTER UNTUK MENINGKATKAN KONSEP DIRI SISWA
Disusun untuk perbaikan nilai mata kuliah Pertumbuhan
dan Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus yang diampu oleh
Dr. H. Ayi Najmul Hidayat, M. Pd.

Disusun oleh:
Dhony Agusta Aulia Supendi
41032102181053
PROGRAM STUDI
PRNDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS KEGURUAN
DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM
NUSANTARA
BANDUNG 2019
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Puji syukur saya haturkan kepada Dzat Yang Maha Ghofur
Allah SWT, yang telah memberikan karunia serta anugerah-Nya, sehingga dapat
menyelesaikan makalah Model Penasihat Akademik Berbasis
Karakter untuk Meningkatkan Konsep Diri Siswa ini dengan tepat waktu.
Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW, serta keluarganya, para sahabatnya, serta umat beliau yang
senantiasa menegakan kalam-kalam Allah SWT di muka bumi ini hingga akhir zaman.
Dan harapan saya semoga makalah ini dapat
menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Namun juga untuk
kedepannnya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi
lebih baik, saya memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
sehingga saya mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi
terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.
Bandung, Mei 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
|
KATA
PENGANTAR
|
…………………………………
|
i
|
|
DAFTAR
ISI
|
…………………………………
|
ii
|
|
|
|
|
|
BAB
I PENDAHULUAN
|
|
|
|
1.1
Latar Belakang
|
…………………………………
|
1
|
|
1.2
Rumusan Masalah
|
…………………………………
|
2
|
|
1.3
Tujuan
|
…………………………………
|
2
|
|
1.4
Manfaat
|
…………………………………
|
2
|
|
1.5
Metodologi
|
…………………………………
|
3
|
|
|
|
|
|
BAB
II PEMBAHASAN
|
|
|
|
2.1
Model Penasihat Akademik
Berbasis Karakter
|
…………………………………
|
4
|
|
2.1.1
Pengertian Penasehat Akademik
|
…………………………………
|
4
|
|
2.1.2
Tujuan Penasehat Akademik
|
…………………………………
|
4
|
|
2.1.3
Landasan Penasehat Akademik
|
…………………………………
|
5
|
|
2.2
Konsep Diri Siswa
|
…………………………………
|
5
|
|
2.3 Pengaruh Model
Penasihat Akademik Berbasis Karakter dalam Meningkatkan Konsep Diri Siswa
|
…………………………………
|
8
|
|
|
|
|
|
BAB
II SIMPULAN
|
|
|
|
3.1
Simpulan
|
…………………………………
|
11
|
|
3.2
Saran
|
…………………………………
|
11
|
|
|
|
|
|
DAFTAR
PUSTAKA
|
|
|
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelaksanaan bimbingan dan pengawasan akademik di Sekolah
Tinggi Pendidikan dilakukan oleh konselor akademik yang bertujuan antara lain
untuk mengembangkan konsep diri siswa. Siswa sebagai akibatnya dapat
mengembangkan kepribadian mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan. Para
siswa yang memiliki konsep diri rendah akan menghadapi kesulitan dalam
membangun karakter mereka sendiri. Untuk alasan itu, konsep diri siswa perlu
diungkapkan, dibahas, dan di implementasikan dalam kegiatan pengawasan
akademik. Di sisi lain, pengawas akademik dalam melakukan tugasnya juga perlu
lebih memahami konsep diri sehingga mereka dapat mengelola siswa yang memiliki
keinginan dan tuntutan untuk mewujudkan dan mengembangkan konsep diri mereka
dalam kehidupan mereka dan menjaga kesiapan. dalam menghadapi efek dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berubah dengan cepat. Studi sebelumnya tidak diragukan lagi mengungkapkan pentingnya
peran instruktur atau pengawas dan pengaruh kuat konsep diri dalam menciptakan
hubungan dengan siswa selama kegiatan akademik.
Proses
yang mengarah pada peningkatan atau berkurangnya konsep diri pelajar dimulai
dengan interaksi antara instruktur atau pengawas dan siswa. Berdasarkan
pengamatan pada pelaksanaan supervisi akademik di Sekolah Tinggi Pendidikan,
mayoritas konselor akademik untuk siswa di Sekolah Tinggi Pendidikan
menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan kepada siswa adalah karena: (1)
kurangnya pemahaman diri siswa; (2) kesadaran diri; (3) pengakuan diri; dan (4)
kira-kira memfasilitasi dan membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan
konsep diri siswa.
Tidak semua
konselor akademik melakukan pengembangan konsep diri siswa. Oleh karena itu,
akademik yang berorientasi pada pengawasan harus mengembangkan konsep diri
siswa sebanyak mungkin dan harus diimplementasikan bersama oleh konselor
akademik, karena kondisi masyarakat kita saat ini yang mengharapkan siswa yang
telah menyelesaikan studi memiliki karakter yang spesifik, yaitu, jujur dan
kuat, cepat dan tepat, penuh pertimbangan dan akurat, fleksibel dan interaktif. Penelitian telah dengan jelas
menunjukkan betapa pentingnya peran guru dan seberapa kuat pengaruh pada konsep
diri yang mereka miliki dalam menciptakan hubungan dengan siswa selama kegiatan
sekolah. Proses yang mengarah pada peningkatan atau penurunan konsep diri
pelajar dimulai dengan interaksi antara guru dan siswa.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, dapat diambil beberapa rumusan masalah yaitu:
1. Apa
itu model penasihat akademik berbasis karakter?
2. Apa
itu konsep diri siswa?
3. Bagaimana
pengaruh model penasihat akademik berbasis karakter dalam meningkatkan konsep
diri siswa?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari
makalah ini yaitu:
1. Untuk
mengetahui model penasihat akademik berbasis karakter
2. Untuk
mengetahui konsep diri siswa
3. Untuk
mengetahui pengaruh model penasihat akademik berbasis karakter dalam
meningkatkan konsep diri siswa
1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat
diambil dari makalah ini yaitu agar pembaca dapat memahami lebih dalam lagi
tentang model penasihat akademik berbasis karakter khususnya dalam meningkatkan
konsep diri siswa.
1.5 Metodologi
Dalam
penulisan makalah ini menggunakan metode kepustakaan dari sumber jurnal dan
internet. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis, penyajian data, dan
pengambilan kesimpulan serta penulisan hasil penulisan.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Model Penasihat Akademik Berbasis
Karakter
2.1.1
Pengertian Penasihat Akademik
Kepenasiatan
akademik adalah usaha-usaha bimbingan yang dilakukan oleh PA (Penasehat
Akademik) bagi mahasiswa yang menjadi tanggung jawab bimbinganya. Usaha-usaha
ini bersifat membantu mahasiswa dalam merencanakan program belajar,
melaksanakan kegiatan belajar, mengatasi masalah belajar yang dihadapi dan
mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki mahasiswa bimbingannya secara
optimal. Membantu, artinya PA tidak menentukan arah ataupun keputusan bagi
mahasiswa. Pengambilan keputusan bagi dirinya dilakukan oleh dan menjadi
tanggung jawab mahasiswa sendiri. Sedangkan bantuan yang dilakukan PA antara
lain berupa pemberian informasi akademik yang relevan, pemberian orientasi
program studi, pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang tepat dan benar,
pemberian pertimbangan dan saran-saran dalam proses pengambilan keputusan,
pemberian contoh keteladanan, pemberian persetujuan atau penolakan atas sesuatu
yang diajukan mahasiswa berdasarkan kelayakan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku
di lingkungan Sekolah.
Atas apa yang
telah diungkapkan di atas dengan dilandasi pendidikan karakter, bukan hanya
sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Lebih dari itu,
pendidikan karakter adala usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation) sehingga peserta didik
mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi
kepribadiannya.
2.1.2 Tujuan Kepenasihatan Akademik
Tujuan
kepenasihatan akademik merupakan salah satu unsur atau komponen dalam sistem pendidikan
tinggi. Secara fungsional, ia menjalin keterpaduan dengan komponen-komponen
lainnya. Oleh karena itu, tujuan umum kepenasihatan akademik adalah memelihara
keseimbangan dan keselarasan dengan komponen-komponen lain dalam rangka
menunjang proses belajar-mengajar mahasiswa.
2.1.3 Landasan Penasehat Akademik
Pelaksanaan
penasehat akademik didasarkan pada hal-hal berikut:
1.
Keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 12/U/1979, tentang pelaksanaan Sistem
Kredit Semester di Perguruan Tinggi dan Pedoman Penyelenggaraan Proses
Pendidikan Tinggi atas Dasar Sistem Kredit.
2.
Peraturan
Pemerintah Nomor, Pasal 26, yang menyatakan bahwa kelompok pengajar mempunyai
tugas melaksanakan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada
masyarakat sesuai dengan bidang keahlian ilmunya, serta memberi bimbingan
kepada para mahasiswa dalam rangka memenuhi kebutuhan dan minat mahasiwa di
dalam proses pendidikan.
3.
Pandangan/filsafat
bahwa mahasiswa bukan sekedar objek didik saja, melainkan subjek didik yang aktif
dalam proses pengembangan diri pribadinya.
4.
Anggapan
bahwa mahasiswa tidak semuanya untuk menyelesaikan sendiri tugas-tugas
administratif dan akademik, serta tugas-tugas pengembangan dirinya.
2.2 Konsep Diri Siswa
Konsep diri pada dasarnya adalah pandangan dan
perasaan tentang diri biologis dan sosial, yang diperoleh melalui pengalaman
dan interaksi dengan orang lain. Konsep diri siswa terkait dengan citra diri
dan penilaian diri siswa. Gambaran umum dan penilaian ditentukan oleh persepsi
siswa tentang pengalaman, refleksi, dan makna kehidupan yang pernah ia alami.
Selain itu, dipengaruhi juga oleh penilaian diri dan penilaian diri orang lain
terhadap siswa itu sendiri. Konsep diri siswa akan dipengaruhi oleh bagaimana
siswa memahami dan merasakan kondisi dirinya, sehingga ia dijadikan bahan
pertimbangan dalam menentukan dan melakukan kegiatan, keputusan dan upaya untuk
melakukan perubahan. Konsep diri akan dipengaruhi juga oleh lingkungan fisik,
penilaian orang lain, keinginannya, dan kepercayaan terhadap Tuhan.
Selain itu konsep
diri siswa dipengaruhi oleh sudut pandang orang tua dan orang lain terhadap
dirinya, sehingga kesimpulan dari penilaian itu sendiri dapat digunakan sebagai
gambaran dirinya. Siswa mencari cara untuk berinteraksi dan bagaimana tidak
bertindak seperti yang diinginkan oleh orang terdekat, berlatih dan
mengembangkan berbagai kemampuan, bakat dan minat untuk menyenangkan dirinya
sendiri dan orang lain. Dengan keberhasilan dan makna yang dilakukan oleh
dirinya sendiri, semangat juangnya meningkat, demikian pula pola hidup menjadi
semakin jelas. Kondisi seperti inilah yang akan memengaruhi konsep diri siswa,
siswa memahami diri, sadar diri dan menghargai diri sendiri melalui sosialisasi
dengan lingkungan siswa akan lebih terlihat dan meningkatkan perkembangan itu
sendiri.
Burns sebagaimana dikutip oleh Ikbal berpendapat bahwa
pembentukan dan pengembangan konsep diri ditentukan oleh lima sumber, yaitu:
citra tubuh, bahasa, umpan balik dari orang-orang yang dihormati, identifikasi
dan identitas sek peran dan praktik pembesaran anak. Citra tubuh sangat mirip
dengan hasil penilaian diri dan orang lain terhadap tubuhnya dan pengakuan
dirinya. Sedangkan siswa yang memiliki diri sendiri akan mempengaruhi konsep
itu sendiri. Bahasa adalah alat untuk membentuk dasar-dasar konsep dan menilai
diri mereka sendiri, apakah itu dilakukan oleh siswa sendiri atau oleh orang
lain. Umpan balik dari mereka yang memiliki otoritas tinggi akan sangat
mempengaruhi konsep diri siswa karena akan memperkuat penilaian yang dilakukan
oleh dirinya sendiri dan orang lain terhadap siswa itu sendiri. Identifikasi
dan pewarnaan identitas peran sek-konsep diri, akan tetapi siswa akan berusaha
untuk bertindak sesuai identifikasi, sedangkan identitas peran seks adalah tingkat kesesuaian siswa
dengan penilaian orang lain yang terkait dengan kecenderungan siswa memiliki
sifat pria atau wanita.
Marsh dan Martin mengatakan bahwa konsep diri positif
dinilai sebagai hasil yang diinginkan dalam banyak disiplin ilmu psikologi
serta mediator penting untuk hasil lainnya. Menggunakan model efek timbal balik
(REM) yang menempatkan konsep diri akademik (ASC) dan prestasi mereka menemukan
bahwa penelitian REM dan meta-analisis yang komprehensif menunjukkan bahwa ASC
sebelumnya memiliki efek langsung dan tidak langsung pada pencapaian
berikutnya, sementara efek dari diri sendiri pengakuan dan komponen konsep-diri
non-akademik lainnya dapat diabaikan. Dengan demikian, penelitian ini penting
dalam menunjukkan bahwa peningkatan ASC menyebabkan peningkatan prestasi
akademik berikutnya dan hasil pendidikan yang diinginkan lainnya. Temuan
mengkonfirmasi bahwa tidak hanya konsep diri merupakan variabel hasil penting
dalam dirinya sendiri, itu juga memainkan peran sentral dalam mempengaruhi hasil
pendidikan yang diinginkan lainnya. Selain itu, pengayaan konsep diri adalah
pengaturan beragam tujuan utama. Ini adalah konstruksi hierarkis multidimensi
dengan komponen yang sangat berbeda seperti konsep diri akademik, sosial, fisik
dan emosional serta pengenalan diri global. Konsep diri juga merupakan faktor
mediasi penting yang memfasilitasi pencapaian hasil yang diinginkan lainnya.
Konsep diri akademik adalah dimensi lain dari konsep
diri. Ini didefinisikan sebagai satu set sikap dan perasaan yang relatif stabil
yang mencerminkan evaluasi diri terhadap kemampuan seseorang untuk berhasil
melakukan tugas-tugas dasar sekolah yang terkait seperti membaca, menulis,
mengeja, dan matematika. Banyak literatur di bidang konsep diri menunjukkan
hubungan sebab akibat antara konsep diri akademik dan kinerja akademik. Lyon dan MacDonald memberikan bukti
korelasional yang menunjukkan bahwa konsep diri akademik membuat kontribusi
yang signifikan dalam memprediksi prestasi akademik.
2.3 Pengaruh Model Penasihat Akademik Berbasis
Karakter dalam Meningkatkan Konsep Diri Siswa
Berdasarkan hasil peneiltian respon siswa terhadap
model adalah positif meskipun implementasinya dianggap tidak optimal. Pengawas
Akademik juga menetapkan respons positif terhadap model karena efisiensi,
efektivitas, relevansi, dan fleksibilitasnya. Hal ini menunjukkan bahwa model
mampu meningkatkan konsep diri siswa dalam kategori sedang hingga tinggi. Total
100 siswa melaporkan bahwa mereka merasa bahwa pemahaman diri, kesadaran diri,
dan pengenalan diri mereka semakin baik. 71,3%
dari siswa yang terdiri dari 33% dalam kategori tinggi dan 38,3% dalam tingkat
sedang mengatakan bahwa mereka telah meningkatkan cukup nyaman dari pemahaman
diri mereka tentang kehidupan akademik mereka sendiri di kampus dan dalam
kehidupan sehari-hari. Sebanyak 76,5% siswa yang mengandung 37% pada tingkat
tinggi dan 39,5% pada tingkat sedang juga mengatakan bahwa mereka lebih sadar
akan apa yang mereka lakukan; kesadaran diri meningkat relatif pas. Selain itu,
pengakuan diri siswa pulih lebih baik setelah mereka melakukan sesi konsultasi
dengan para penasihat. Sebanyak 74,66% siswa yang terdiri dari 43,66% dalam
kategori tinggi dan 31% pada tingkat sedang mengatakan bahwa mereka memiliki
penghargaan yang lebih baik terhadap diri mereka sendiri.

Gambar konsep diri siswa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa telah
memiliki kesadaran akan identitas mereka sendiri yang kemudian dikategorikan ke
dalam kesadaran akan perlunya hubungan dengan teman sebaya, kemampuan untuk
memelihara dan merawat kondisi fisik mereka, kesadaran dan motivasi yang kuat
untuk menguasai disiplin ilmu mereka sendiri, untuk melanjutkan pendidikan
mereka di tingkat yang lebih tinggi, untuk memiliki karir yang sesuai untuk
diri mereka sendiri, dan untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Mereka juga memiliki pemahaman tentang pentingnya pilihan karier yang tepat
untuk pengembangan lebih lanjut, serta gambaran yang solid tentang kehidupan
emosional, sosial, intelektual, dan ekonomi yang mandiri. Namun konsep diri
beberapa siswa di Sekolah Tinggi Pendidikan masih perlu ditingkatkan, yaitu
pemahaman tentang aspek diri, realisasi diri dan pengakuan diri. Implikasi
untuk tugas pembinaan akademik, adalah: Pertama, perlunya mengembangkan pemahaman
konsep diri siswa di Sekolah Tinggi Pendidikan, kepada pembimbing akademik
diharapkan dapat membimbing siswa Sekolah Tinggi Pendidikan, untuk: a)
memperkuat keyakinan dalam Tuhan yang maha kuasa; b) meningkatkan pengabdian
kepada Allah SWT; c) untuk memperkuat kesabaran; d) untuk meningkatkan rasa
syukur; e) untuk mendekat kepada Allah SWT.
Kedua, perlunya mengembangkan kesadaran diri para
siswa, karena pengawas akademik diharapkan dapat membimbing siswa Sekolah
Tinggi Pendidikan, a) untuk memiliki kesadaran akan perlunya hubungan dengan
teman sebaya; b) untuk dapat memelihara dan merawat kondisi fisik yang sehat;
c) memiliki kesadaran dan motivasi yang kuat untuk menguasai sains, teknologi,
dan seni; d) memiliki kesadaran dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan di
tingkat yang lebih tinggi; e) memiliki kesadaran dan motivasi untuk
menyelesaikan karier yang tepat untuk dirinya sendiri; f) memiliki kesadaran
dan motivasi untuk berpartisipasi kehidupan komunitas; g) untuk memiliki
pemahaman tentang pentingnya pilihan karir yang tepat untuk pengembangan lebih
lanjut; h) memiliki gambaran yang kuat tentang kehidupan emosional, sosial,
intelektual dan ekonomi yang mandiri; i) memiliki sikap yang mantap untuk
mengarahkan diri mereka pada perwujudan kehidupan yang sehat bagi keluarga,
masyarakat, bangsa dan negara; j) memiliki kesadaran akan perlunya komunikasi
sosial dan intelektual secara efektif, efisien, dan produktif; k) memiliki
kemantapan kesadaran tentang pentingnya apresiasi seni; l) memiliki kesadaran akan
pentingnya etika dan sistem nilai dan penerapannya secara tepat dalam berbagai
latar kehidupan; m) untuk mengenali dan menerima perubahan, pertumbuhan, dan
perkembangan fisik dan psikologis yang terjadi pada diri mereka sendiri; n)
untuk mengetahui tentang kekuatan diri, bakat dan minat serta distribusi dan
pengembangan, o) untuk mengetahui tentang kelemahan diri Anda dan upaya untuk
mengatasinya.
Ketiga, kebutuhan untuk mengembangkan pengakuan diri
siswa Sekolah Tinggi Pendidikan, kepada pembimbing akademik diharapkan dapat
membimbing siswa a) untuk mengembangkan konsep diri yang positif; b)
mengembangkan pertahanan diri, c) mengembangkan kemampuan untuk mandiri; d)
untuk mengembangkan keberanian untuk mengambil risiko, e) untuk mengembangkan
rasa kasih sayang yang tulus kepada orang tua, dan f) untuk mengembangkan sikap
menghormati orang lain dengan tulus.
Ikbal berpendapat bahwa aspek konsep diri sering
didahului dengan pertanyaan tentang apa tujuan hidup, dan bagaimana mengatur
dan mencapai tujuan siswa . Pertanyaan itu akan mempengaruhi konsep diri siswa.
Kesadaran diri akan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh siswa akan
mempengaruhi konsep diri siswa. Pengakuan diri adalah pandangan terhadap
kebermaknaan murid-muridnya. Tingkat signifikansi diri siswa akan mempengaruhi
tingkat pengaruh pada konsep diri siswa. Pengakuan diri siswa akan dipengaruhi
oleh pandangan, nilai, kepercayaan, dan kejujuran mereka sendiri. Seperti yang
juga dinyatakan oleh Rawlinson bahwa fitur penting yang berulang dalam definisi
konsep diri, yang berlaku untuk bidang akademik dan non-akademik, adalah cara dimana
konsep diri individu dijelaskan sebagai hasil interaksi dan pengalaman dengan
orang lain [10]. Penekanan ini pada peran pengalaman interaktif menyoroti sifat
perkembangan konsep diri dan memperkuat fakta bahwa konsep diri dipelajari dan
diperoleh dari waktu ke waktu. Karena itu, guru memiliki peran penting dalam
pembentukan konsep diri anak-anak.
BAB
III
SIMPULAN
3.1 Simpulan
Model penasehat
akademik fakultas yang disebut model penasehat akademik berbasis karakter, dan hubungannya dengan
konsep diri siswa, yaitu, pemahaman diri, kesadaran diri, dan pengenalan diri,
mampu meningkatkan kemampuan siswa. konsep diri dalam kategori sedang hingga
tinggi yang terdiri dari pemahaman diri (33% tinggi, 38,3% sedang, dan 29,7%
rendah), kesadaran diri (37% tinggi, 39,5% sedang, dan 23,5% rendah), dan
mandiri pengakuan (43,66% tinggi, 31% sedang, dan rendah 25,33%. Respon siswa
terhadap model juga positif meskipun implementasinya dianggap tidak sepenuhnya
efektif dan efisien. Pengawas Akademik juga menunjukkan respons positif
terhadap model karena efisiensi, efektivitas, relevansi, dan fleksibilitasnya.
Tersirat bahwa dosen sebagai penasihat dapat membimbing siswa untuk melakukan waktu
belajar untuk meningkatkan (1) pemahaman diri siswa dengan meningkatkan iman,
pengabdian, rasa terima kasih, dan kedekatan dengan Yang Maha kuasa; (2)
kesadaran diri siswa dengan memperhatikan aktivitas sosial, kesehatan, karir,
partisipasi, kapasitas intelektual, apresiasi seni, etika dan sistem nilai
serta menerima kemampuan dan kelemahan mereka sendiri; (3) pengakuan diri siswa
melalui pemeliharaan kekuatan diri, kemampuan untuk mengambil risiko, dan
menghormati orang lain.
3.2 Saran
Studi tentang model penasihat akademik berbasis karakter untuk
meningkatkan konsep diri siswa perlu dilakukan dalam sampel yang
lebih luas untuk mengetahui lebih banyak tentang gambaran konsep diri, bakat
dan minat siswa Indonesia serta kelemahan dalam upaya mengatasi masalah mereka
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun Sekolah Tinggi Teknik Ibnu Sina Batam.
2011. Pedoman penasehat akademik. [online] tersedia: https://docplayer.info/37164227-Pedoman-penasehat-akademik-di-susun-oleh-tim-penyusun.html. Diunduh pada tanggal 7 Mei 2019.
Yusuf, Suhendra dan Ayi Najmul. 2018. A
character-based academic advising model to improve the students’ self-concepts. Advances in Social Science, Education, and
Humanities Research, volume 306.
LINK DHONY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar