Selasa, 21 Mei 2019

MAKALAH MAKALAH MODEL PENASIHAT AKADEMIK BERBASIS KARAKTER UNTUK MENINGKATKAN KONSEP DIRI SISWA


MAKALAH
 MODEL PENASIHAT AKADEMIK BERBASIS KARAKTER UNTUK MENINGKATKAN KONSEP DIRI SISWA
Disusun untuk perbaikan nilai mata kuliah Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus yang diampu oleh
Dr. H. Ayi Najmul Hidayat, M. Pd.


Disusun oleh:
Dhony Agusta Aulia Supendi
41032102181053


PROGRAM STUDI PRNDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
BANDUNG 2019
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrohmaanirrohiim,
               Puji syukur saya haturkan kepada Dzat Yang Maha Ghofur Allah SWT, yang telah memberikan karunia serta anugerah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan makalah Model Penasihat Akademik Berbasis Karakter untuk Meningkatkan Konsep Diri Siswa ini dengan tepat waktu. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, serta keluarganya, para sahabatnya, serta umat beliau yang senantiasa menegakan kalam-kalam Allah SWT di muka bumi ini hingga akhir zaman.
Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Namun juga untuk kedepannnya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik, saya memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga saya mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.




Bandung, Mei 2019

Penyusun




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
…………………………………
i
DAFTAR ISI
…………………………………
ii



BAB I PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
…………………………………
1
1.2 Rumusan Masalah
…………………………………
2
1.3 Tujuan
…………………………………
2
1.4 Manfaat
…………………………………
2
1.5 Metodologi
…………………………………
3



BAB II PEMBAHASAN


2.1 Model Penasihat Akademik Berbasis Karakter
…………………………………
4
2.1.1 Pengertian Penasehat Akademik
…………………………………
4
2.1.2 Tujuan Penasehat Akademik
…………………………………
4
2.1.3 Landasan Penasehat Akademik
…………………………………
5
2.2 Konsep Diri Siswa
…………………………………
5
2.3 Pengaruh Model Penasihat Akademik Berbasis Karakter dalam Meningkatkan Konsep Diri Siswa
…………………………………
8



BAB II SIMPULAN


3.1 Simpulan
…………………………………
11
3.2 Saran
…………………………………
11



DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Pelaksanaan bimbingan dan pengawasan akademik di Sekolah Tinggi Pendidikan dilakukan oleh konselor akademik yang bertujuan antara lain untuk mengembangkan konsep diri siswa. Siswa sebagai akibatnya dapat mengembangkan kepribadian mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan. Para siswa yang memiliki konsep diri rendah akan menghadapi kesulitan dalam membangun karakter mereka sendiri. Untuk alasan itu, konsep diri siswa perlu diungkapkan, dibahas, dan di implementasikan dalam kegiatan pengawasan akademik. Di sisi lain, pengawas akademik dalam melakukan tugasnya juga perlu lebih memahami konsep diri sehingga mereka dapat mengelola siswa yang memiliki keinginan dan tuntutan untuk mewujudkan dan mengembangkan konsep diri mereka dalam kehidupan mereka dan menjaga kesiapan. dalam menghadapi efek dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berubah dengan cepat. Studi sebelumnya tidak diragukan lagi mengungkapkan pentingnya peran instruktur atau pengawas dan pengaruh kuat konsep diri dalam menciptakan hubungan dengan siswa selama kegiatan akademik.
Proses yang mengarah pada peningkatan atau berkurangnya konsep diri pelajar dimulai dengan interaksi antara instruktur atau pengawas dan siswa. Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan supervisi akademik di Sekolah Tinggi Pendidikan, mayoritas konselor akademik untuk siswa di Sekolah Tinggi Pendidikan menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan kepada siswa adalah karena: (1) kurangnya pemahaman diri siswa; (2) kesadaran diri; (3) pengakuan diri; dan (4) kira-kira memfasilitasi dan membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan konsep diri siswa.
Tidak semua konselor akademik melakukan pengembangan konsep diri siswa. Oleh karena itu, akademik yang berorientasi pada pengawasan harus mengembangkan konsep diri siswa sebanyak mungkin dan harus diimplementasikan bersama oleh konselor akademik, karena kondisi masyarakat kita saat ini yang mengharapkan siswa yang telah menyelesaikan studi memiliki karakter yang spesifik, yaitu, jujur ​​dan kuat, cepat dan tepat, penuh pertimbangan dan akurat, fleksibel dan interaktif. Penelitian telah dengan jelas menunjukkan betapa pentingnya peran guru dan seberapa kuat pengaruh pada konsep diri yang mereka miliki dalam menciptakan hubungan dengan siswa selama kegiatan sekolah. Proses yang mengarah pada peningkatan atau penurunan konsep diri pelajar dimulai dengan interaksi antara guru dan siswa.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diambil beberapa rumusan masalah yaitu:
1.      Apa itu model penasihat akademik berbasis karakter?
2.      Apa itu konsep diri siswa?
3.      Bagaimana pengaruh model penasihat akademik berbasis karakter dalam meningkatkan konsep diri siswa?

1.3  Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu:
1.      Untuk mengetahui model penasihat akademik berbasis karakter
2.      Untuk mengetahui konsep diri siswa
3.      Untuk mengetahui pengaruh model penasihat akademik berbasis karakter dalam meningkatkan konsep diri siswa

1.4  Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini yaitu agar pembaca dapat memahami lebih dalam lagi tentang model penasihat akademik berbasis karakter khususnya dalam meningkatkan konsep diri siswa.

1.5  Metodologi
Dalam penulisan makalah ini menggunakan metode kepustakaan dari sumber jurnal dan internet. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan serta penulisan hasil penulisan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Model Penasihat Akademik Berbasis Karakter
2.1.1 Pengertian Penasihat Akademik
Kepenasiatan akademik adalah usaha-usaha bimbingan yang dilakukan oleh PA (Penasehat Akademik) bagi mahasiswa yang menjadi tanggung jawab bimbinganya. Usaha-usaha ini bersifat membantu mahasiswa dalam merencanakan program belajar, melaksanakan kegiatan belajar, mengatasi masalah belajar yang dihadapi dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki mahasiswa bimbingannya secara optimal. Membantu, artinya PA tidak menentukan arah ataupun keputusan bagi mahasiswa. Pengambilan keputusan bagi dirinya dilakukan oleh dan menjadi tanggung jawab mahasiswa sendiri. Sedangkan bantuan yang dilakukan PA antara lain berupa pemberian informasi akademik yang relevan, pemberian orientasi program studi, pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang tepat dan benar, pemberian pertimbangan dan saran-saran dalam proses pengambilan keputusan, pemberian contoh keteladanan, pemberian persetujuan atau penolakan atas sesuatu yang diajukan mahasiswa berdasarkan kelayakan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di lingkungan Sekolah.
Atas apa yang telah diungkapkan di atas dengan dilandasi pendidikan karakter, bukan hanya sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Lebih dari itu, pendidikan karakter adala usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation) sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya.

2.1.2 Tujuan Kepenasihatan Akademik
Tujuan kepenasihatan akademik merupakan salah satu unsur atau komponen dalam sistem pendidikan tinggi. Secara fungsional, ia menjalin keterpaduan dengan komponen-komponen lainnya. Oleh karena itu, tujuan umum kepenasihatan akademik adalah memelihara keseimbangan dan keselarasan dengan komponen-komponen lain dalam rangka menunjang proses belajar-mengajar mahasiswa.

2.1.3 Landasan Penasehat Akademik
Pelaksanaan penasehat akademik didasarkan pada hal-hal berikut:
1.      Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 12/U/1979, tentang pelaksanaan Sistem Kredit Semester di Perguruan Tinggi dan Pedoman Penyelenggaraan Proses Pendidikan Tinggi atas Dasar Sistem Kredit.
2.      Peraturan Pemerintah Nomor, Pasal 26, yang menyatakan bahwa kelompok pengajar mempunyai tugas melaksanakan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat sesuai dengan bidang keahlian ilmunya, serta memberi bimbingan kepada para mahasiswa dalam rangka memenuhi kebutuhan dan minat mahasiwa di dalam proses pendidikan.
3.      Pandangan/filsafat bahwa mahasiswa bukan sekedar objek didik saja, melainkan subjek didik yang aktif dalam proses pengembangan diri pribadinya.
4.      Anggapan bahwa mahasiswa tidak semuanya untuk menyelesaikan sendiri tugas-tugas administratif dan akademik, serta tugas-tugas pengembangan dirinya.

2.2 Konsep Diri Siswa
Konsep diri pada dasarnya adalah pandangan dan perasaan tentang diri biologis dan sosial, yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi dengan orang lain. Konsep diri siswa terkait dengan citra diri dan penilaian diri siswa. Gambaran umum dan penilaian ditentukan oleh persepsi siswa tentang pengalaman, refleksi, dan makna kehidupan yang pernah ia alami. Selain itu, dipengaruhi juga oleh penilaian diri dan penilaian diri orang lain terhadap siswa itu sendiri. Konsep diri siswa akan dipengaruhi oleh bagaimana siswa memahami dan merasakan kondisi dirinya, sehingga ia dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan dan melakukan kegiatan, keputusan dan upaya untuk melakukan perubahan. Konsep diri akan dipengaruhi juga oleh lingkungan fisik, penilaian orang lain, keinginannya, dan kepercayaan terhadap Tuhan.
Selain itu konsep diri siswa dipengaruhi oleh sudut pandang orang tua dan orang lain terhadap dirinya, sehingga kesimpulan dari penilaian itu sendiri dapat digunakan sebagai gambaran dirinya. Siswa mencari cara untuk berinteraksi dan bagaimana tidak bertindak seperti yang diinginkan oleh orang terdekat, berlatih dan mengembangkan berbagai kemampuan, bakat dan minat untuk menyenangkan dirinya sendiri dan orang lain. Dengan keberhasilan dan makna yang dilakukan oleh dirinya sendiri, semangat juangnya meningkat, demikian pula pola hidup menjadi semakin jelas. Kondisi seperti inilah yang akan memengaruhi konsep diri siswa, siswa memahami diri, sadar diri dan menghargai diri sendiri melalui sosialisasi dengan lingkungan siswa akan lebih terlihat dan meningkatkan perkembangan itu sendiri.
Burns sebagaimana dikutip oleh Ikbal berpendapat bahwa pembentukan dan pengembangan konsep diri ditentukan oleh lima sumber, yaitu: citra tubuh, bahasa, umpan balik dari orang-orang yang dihormati, identifikasi dan identitas sek peran dan praktik pembesaran anak. Citra tubuh sangat mirip dengan hasil penilaian diri dan orang lain terhadap tubuhnya dan pengakuan dirinya. Sedangkan siswa yang memiliki diri sendiri akan mempengaruhi konsep itu sendiri. Bahasa adalah alat untuk membentuk dasar-dasar konsep dan menilai diri mereka sendiri, apakah itu dilakukan oleh siswa sendiri atau oleh orang lain. Umpan balik dari mereka yang memiliki otoritas tinggi akan sangat mempengaruhi konsep diri siswa karena akan memperkuat penilaian yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan orang lain terhadap siswa itu sendiri. Identifikasi dan pewarnaan identitas peran sek-konsep diri, akan tetapi siswa akan berusaha untuk bertindak sesuai identifikasi, sedangkan identitas peran seks adalah tingkat kesesuaian siswa dengan penilaian orang lain yang terkait dengan kecenderungan siswa memiliki sifat pria atau wanita.
Marsh dan Martin mengatakan bahwa konsep diri positif dinilai sebagai hasil yang diinginkan dalam banyak disiplin ilmu psikologi serta mediator penting untuk hasil lainnya. Menggunakan model efek timbal balik (REM) yang menempatkan konsep diri akademik (ASC) dan prestasi mereka menemukan bahwa penelitian REM dan meta-analisis yang komprehensif menunjukkan bahwa ASC sebelumnya memiliki efek langsung dan tidak langsung pada pencapaian berikutnya, sementara efek dari diri sendiri pengakuan dan komponen konsep-diri non-akademik lainnya dapat diabaikan. Dengan demikian, penelitian ini penting dalam menunjukkan bahwa peningkatan ASC menyebabkan peningkatan prestasi akademik berikutnya dan hasil pendidikan yang diinginkan lainnya. Temuan mengkonfirmasi bahwa tidak hanya konsep diri merupakan variabel hasil penting dalam dirinya sendiri, itu juga memainkan peran sentral dalam mempengaruhi hasil pendidikan yang diinginkan lainnya. Selain itu, pengayaan konsep diri adalah pengaturan beragam tujuan utama. Ini adalah konstruksi hierarkis multidimensi dengan komponen yang sangat berbeda seperti konsep diri akademik, sosial, fisik dan emosional serta pengenalan diri global. Konsep diri juga merupakan faktor mediasi penting yang memfasilitasi pencapaian hasil yang diinginkan lainnya.
Konsep diri akademik adalah dimensi lain dari konsep diri. Ini didefinisikan sebagai satu set sikap dan perasaan yang relatif stabil yang mencerminkan evaluasi diri terhadap kemampuan seseorang untuk berhasil melakukan tugas-tugas dasar sekolah yang terkait seperti membaca, menulis, mengeja, dan matematika. Banyak literatur di bidang konsep diri menunjukkan hubungan sebab akibat antara konsep diri akademik dan kinerja akademik. Lyon dan MacDonald memberikan bukti korelasional yang menunjukkan bahwa konsep diri akademik membuat kontribusi yang signifikan dalam memprediksi prestasi akademik.

2.3 Pengaruh Model Penasihat Akademik Berbasis Karakter dalam Meningkatkan Konsep Diri Siswa
Berdasarkan hasil peneiltian respon siswa terhadap model adalah positif meskipun implementasinya dianggap tidak optimal. Pengawas Akademik juga menetapkan respons positif terhadap model karena efisiensi, efektivitas, relevansi, dan fleksibilitasnya. Hal ini menunjukkan bahwa model mampu meningkatkan konsep diri siswa dalam kategori sedang hingga tinggi. Total 100 siswa melaporkan bahwa mereka merasa bahwa pemahaman diri, kesadaran diri, dan pengenalan diri mereka semakin baik. 71,3% dari siswa yang terdiri dari 33% dalam kategori tinggi dan 38,3% dalam tingkat sedang mengatakan bahwa mereka telah meningkatkan cukup nyaman dari pemahaman diri mereka tentang kehidupan akademik mereka sendiri di kampus dan dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 76,5% siswa yang mengandung 37% pada tingkat tinggi dan 39,5% pada tingkat sedang juga mengatakan bahwa mereka lebih sadar akan apa yang mereka lakukan; kesadaran diri meningkat relatif pas. Selain itu, pengakuan diri siswa pulih lebih baik setelah mereka melakukan sesi konsultasi dengan para penasihat. Sebanyak 74,66% siswa yang terdiri dari 43,66% dalam kategori tinggi dan 31% pada tingkat sedang mengatakan bahwa mereka memiliki penghargaan yang lebih baik terhadap diri mereka sendiri.
Gambar konsep diri siswa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa telah memiliki kesadaran akan identitas mereka sendiri yang kemudian dikategorikan ke dalam kesadaran akan perlunya hubungan dengan teman sebaya, kemampuan untuk memelihara dan merawat kondisi fisik mereka, kesadaran dan motivasi yang kuat untuk menguasai disiplin ilmu mereka sendiri, untuk melanjutkan pendidikan mereka di tingkat yang lebih tinggi, untuk memiliki karir yang sesuai untuk diri mereka sendiri, dan untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Mereka juga memiliki pemahaman tentang pentingnya pilihan karier yang tepat untuk pengembangan lebih lanjut, serta gambaran yang solid tentang kehidupan emosional, sosial, intelektual, dan ekonomi yang mandiri. Namun konsep diri beberapa siswa di Sekolah Tinggi Pendidikan masih perlu ditingkatkan, yaitu pemahaman tentang aspek diri, realisasi diri dan pengakuan diri. Implikasi untuk tugas pembinaan akademik, adalah: Pertama, perlunya mengembangkan pemahaman konsep diri siswa di Sekolah Tinggi Pendidikan, kepada pembimbing akademik diharapkan dapat membimbing siswa Sekolah Tinggi Pendidikan, untuk: a) memperkuat keyakinan dalam Tuhan yang maha kuasa; b) meningkatkan pengabdian kepada Allah SWT; c) untuk memperkuat kesabaran; d) untuk meningkatkan rasa syukur; e) untuk mendekat kepada Allah SWT.
Kedua, perlunya mengembangkan kesadaran diri para siswa, karena pengawas akademik diharapkan dapat membimbing siswa Sekolah Tinggi Pendidikan, a) untuk memiliki kesadaran akan perlunya hubungan dengan teman sebaya; b) untuk dapat memelihara dan merawat kondisi fisik yang sehat; c) memiliki kesadaran dan motivasi yang kuat untuk menguasai sains, teknologi, dan seni; d) memiliki kesadaran dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi; e) memiliki kesadaran dan motivasi untuk menyelesaikan karier yang tepat untuk dirinya sendiri; f) memiliki kesadaran dan motivasi untuk berpartisipasi kehidupan komunitas; g) untuk memiliki pemahaman tentang pentingnya pilihan karir yang tepat untuk pengembangan lebih lanjut; h) memiliki gambaran yang kuat tentang kehidupan emosional, sosial, intelektual dan ekonomi yang mandiri; i) memiliki sikap yang mantap untuk mengarahkan diri mereka pada perwujudan kehidupan yang sehat bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara; j) memiliki kesadaran akan perlunya komunikasi sosial dan intelektual secara efektif, efisien, dan produktif; k) memiliki kemantapan kesadaran tentang pentingnya apresiasi seni; l) memiliki kesadaran akan pentingnya etika dan sistem nilai dan penerapannya secara tepat dalam berbagai latar kehidupan; m) untuk mengenali dan menerima perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan fisik dan psikologis yang terjadi pada diri mereka sendiri; n) untuk mengetahui tentang kekuatan diri, bakat dan minat serta distribusi dan pengembangan, o) untuk mengetahui tentang kelemahan diri Anda dan upaya untuk mengatasinya.
Ketiga, kebutuhan untuk mengembangkan pengakuan diri siswa Sekolah Tinggi Pendidikan, kepada pembimbing akademik diharapkan dapat membimbing siswa a) untuk mengembangkan konsep diri yang positif; b) mengembangkan pertahanan diri, c) mengembangkan kemampuan untuk mandiri; d) untuk mengembangkan keberanian untuk mengambil risiko, e) untuk mengembangkan rasa kasih sayang yang tulus kepada orang tua, dan f) untuk mengembangkan sikap menghormati orang lain dengan tulus.
Ikbal berpendapat bahwa aspek konsep diri sering didahului dengan pertanyaan tentang apa tujuan hidup, dan bagaimana mengatur dan mencapai tujuan siswa . Pertanyaan itu akan mempengaruhi konsep diri siswa. Kesadaran diri akan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh siswa akan mempengaruhi konsep diri siswa. Pengakuan diri adalah pandangan terhadap kebermaknaan murid-muridnya. Tingkat signifikansi diri siswa akan mempengaruhi tingkat pengaruh pada konsep diri siswa. Pengakuan diri siswa akan dipengaruhi oleh pandangan, nilai, kepercayaan, dan kejujuran mereka sendiri. Seperti yang juga dinyatakan oleh Rawlinson bahwa fitur penting yang berulang dalam definisi konsep diri, yang berlaku untuk bidang akademik dan non-akademik, adalah cara dimana konsep diri individu dijelaskan sebagai hasil interaksi dan pengalaman dengan orang lain [10]. Penekanan ini pada peran pengalaman interaktif menyoroti sifat perkembangan konsep diri dan memperkuat fakta bahwa konsep diri dipelajari dan diperoleh dari waktu ke waktu. Karena itu, guru memiliki peran penting dalam pembentukan konsep diri anak-anak.


BAB III
SIMPULAN

3.1  Simpulan
Model penasehat akademik fakultas yang disebut model penasehat akademik berbasis karakter, dan hubungannya dengan konsep diri siswa, yaitu, pemahaman diri, kesadaran diri, dan pengenalan diri, mampu meningkatkan kemampuan siswa. konsep diri dalam kategori sedang hingga tinggi yang terdiri dari pemahaman diri (33% tinggi, 38,3% sedang, dan 29,7% rendah), kesadaran diri (37% tinggi, 39,5% sedang, dan 23,5% rendah), dan mandiri pengakuan (43,66% tinggi, 31% sedang, dan rendah 25,33%. Respon siswa terhadap model juga positif meskipun implementasinya dianggap tidak sepenuhnya efektif dan efisien. Pengawas Akademik juga menunjukkan respons positif terhadap model karena efisiensi, efektivitas, relevansi, dan fleksibilitasnya. Tersirat bahwa dosen sebagai penasihat dapat membimbing siswa untuk melakukan waktu belajar untuk meningkatkan (1) pemahaman diri siswa dengan meningkatkan iman, pengabdian, rasa terima kasih, dan kedekatan dengan Yang Maha kuasa; (2) kesadaran diri siswa dengan memperhatikan aktivitas sosial, kesehatan, karir, partisipasi, kapasitas intelektual, apresiasi seni, etika dan sistem nilai serta menerima kemampuan dan kelemahan mereka sendiri; (3) pengakuan diri siswa melalui pemeliharaan kekuatan diri, kemampuan untuk mengambil risiko, dan menghormati orang lain.

3.2  Saran
Studi tentang model penasihat akademik berbasis karakter untuk meningkatkan konsep diri siswa perlu dilakukan dalam sampel yang lebih luas untuk mengetahui lebih banyak tentang gambaran konsep diri, bakat dan minat siswa Indonesia serta kelemahan dalam upaya mengatasi masalah mereka sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun Sekolah Tinggi Teknik Ibnu Sina Batam. 2011. Pedoman penasehat akademik. [online] tersedia: https://docplayer.info/37164227-Pedoman-penasehat-akademik-di-susun-oleh-tim-penyusun.html. Diunduh pada tanggal 7 Mei 2019.

Yusuf, Suhendra dan Ayi Najmul. 2018. A character-based academic advising model to improve the students’ self-concepts. Advances in Social Science, Education, and Humanities Research, volume 306.
LINK DHONY




Tidak ada komentar:

Posting Komentar